Posted by: djarotpurbadi | February 26, 2009

Tetanggaku Saudaraku

Oleh: Djarot Purbadi.

Judul tulisan ini diangkat dari motto milik warga perumahan Nogotirto V di Sleman, Yogyakarta. Nogotirto V adalah perumahan baru yang dibangun pada tahun 1988 dengan dukungan KPR BTN oleh sebuah developer swasta, penghuninya sebagian besar adalah keluarga muda berpenghasilan menengah ke bawah, dengan jumlah rumah sebanyak 114 buah dan tipe rumah T-21, T-36, T-45, dan T-54 yang jumlahnya seimbang. Motto tersebut dicetuskan melalui proses yang unik, kemudian disepakati sebagai pedoman kerukunan hidup bagi seluruh warga perumahan pada tahun 1990. Mereka bahkan menciptakan juga lagu “Mars Nogotirto V”, yang isinya mengandung motivasi bagi anak – anaknya untuk senantiasa patuh kepada orang tua, tekun belajar, dan mengembangkan sikap persahabatan dan persaudaraan yang tulus.

Para bapak telah menunjukkan peran penting di dalam meletakkan dasar – dasar kehidupan bersama di komplek perumahan. Mereka telah merintis kehidupan yang rukun di kalangan warga perumahan baru Nogotirto V, yang memang berasal dari berbagai SARA. Gardu ronda RT-02, yang kecil dan sederhana serta penuh tambal-sulam, menjadi saksi bisu betapa mereka telah melalui masa – masa kebersamaan yang akrab kemudian berhasil menempa dan mencetuskan gagasan – gagasan besar ke arah aksi persatuan dan kesatuan warga. Acara “tujuh belasan Agustus”, malam satu suro, malam tahun baru, perayaan hari raya keagamaan, justru dinikmati bersama sebagai wahana bagi praksis kerukunan hidup secara nyata. “Kelompok gardu ronda” menjadi kekuatan bagi kehidupan yang rukun.

Indonesia Mini

Menurut mereka, motto dan mars Nogotirto V merupakan bagian dari rerangka besar sebuah negara Indonesia yang dicita – citakan. “Perumahan Nogotirto V adalah Indonesia Mini”, demikian kata para “elite” di Nogotirto V. Mereka menyadari benar bahwa Indonesia Besar terdiri atas ribuan bahkan jutaan Indonesia Mini, yakni perumahan – perumahan rakyat. Mereka sangat sadar bahwa Indonesia Besar dapat dibangun atau dihancurkan melalui Indonesia Mini, yakni dari struktur dan kualitas kehidupan di perumahan seperti yang mereka miliki secara cicilan.

Para elite di Nogotirto V adalah bapak – bapak penghuni rumah tipe 21 dan 36, yang gemar bermain kartu “remi” di gardu ronda. Sambil bergadang dan bermain remi setiap malam, mereka melakukan kontak pribadi secara total (fisik dan batin) untuk membangun kedekatan pribadi yang tulus dan terbuka. Akibatnya, mereka telah berhasil mengembangkan hati, pikiran dan perasaan bersatu lahir – batin sesama warga, yang akhirnya mampu merumuskan konsep Indonesia Mini menurut kacamata dan penghayatan yang sangat subyektif. Tanpa sengaja mereka telah mempraktikkan Indonesia Besar melalui kehidupan sehari – hari secara alamiah. Pedoman yang dihayati adalah bahwa prinsip – prinsip hidup di dalam Indonesia Besar yang ideal harus menjiwai seluruh kehidupan warga Indonesia Mini perumahan Nogotirto V.

Gardu ronda, kartu remi dan forum kontak warga berperan penting di dalam kasus ini. Gardu ronda dapat didirikan di setiap sudut perumahan, kartu remi dapat dimainkan dimana saja, atau forum kontak antar warga dapat dilakukan dimana dan kapan saja. Semuanya saling mendukung dalam proses kristalisasi konsep Indonesia Mini. Gardu ronda dan permainan remi menjadi sarana kontak intensif para bapak untuk mencurahkan dan memberi bentuk kepada seluruh cita – cita hidup yang mereka impikan. Gardu ronda menjadi saksi bertunas dan tumbuhnya suatu kehidupan Indonesia Mini yang bersatu, tenteram, dan sejahtera lahir – batin secara nyata di perumahan Nogotirto V. Cita – cita besar Indonesia yang jaya dapat dibangun melalui partisipasi warga di perumahan – perumahan. Indonesia Besar adalah Indonesia Mini dalam kehidupan nyata.

Pada kasus Nogotirto V ada unsur lain yang juga berperan, yakni kognisi tentang kehidupan yang tenang dan tenteram di “kampung asal” tampaknya masih erat tertanam di dalam jiwa para warga. Gambaran tentang kehidupan “masa lalu” yang tenang dan tenteram ingin diangkat sebagai konsep ideal bagi kehidupan masa kini. Warga Nogotito V masih ingat bahwa di kampung asal masing – masing masih ada tradisi berbagi makanan diantara tetangga, suasana gotong – royong dan saling membantu dalam berbagai keperluan. Mereka memimpikan suasana kehidupan yang rukun dan tenteram itu dapat terwujud di rumah baru Nogotirto V. Mereka bahkan merindukan suasana saling percaya dan persaudaraan yang tulus, sehingga dapat menitipkan kepada tetangga “kunci rumah” atau jemuran bila sedang bepergian. Halamanku bukanlah halamanku semata, adalah halaman kita semua karena tetanggaku adalah saudaraku.

Mereka secara aktif menghidupkan benda mati bangunan – bangunan perumahan karya developer, diisi dengan jiwa kehidupan yang bersemangat maju. Mereka telah berpartisipasi aktif meniupkan nafas kehidupan ke dalamnya. Indonesia Jaya menjadi perjuangan sepanjang jaman seluruh warga negara, dan para warga perumahan Nogotirto V telah menemukan serta memilih jalur penghayatan yang tepat ke arah cita – cita maha besar itu.

Tatanan Lingkungan Perumahan

Dari sudut pandang ilmu dan rekayasa arsitektur, lingkungan fisik merupakan setting bagi berlangsungnya kehidupan, bahkan dapat menentukan kualitas kehidupan yang terjadi di dalamnya. Pada kasus Nogotirto V, setting fisik bersinergi dengan setting sosial – ekonomi – budaya warganya yang meluas di dalam rentang ruang dan waktu (historikal). Kognisi tentang kehidupan yang tenteram menjadi ide utama setting sosial – budaya di dalam sinergi dengan setting fisik perumahan yang dirancang menurut kacamata developer. Kognisi tentang idealisme kehidupan yang rukun telah menggerakkan warga Nogotirto V untuk melakukan rancangan lebih lanjut (adaptation dan adjustment), sehingga perumahan memiliki setting yang lengkap dan menjadi hidup serta terarah kualitasnya.

Desain mereka pada tatanan perumahan terlihat pada cara mereka membagi satuan RT atas dasar elemen jalan, bukan blok atau kelompok bangunan. Warga RT-01 adalah para warga yang tinggal di sepanjang jalan Cakalang dan Duyung, misalnya. Artinya, jalan merupakan kategori yang digunakan untuk mengikat warga secara fisik dan sosial. Cara berpikir semacam itu sebenarnya bertentangan dengan tradisi masyarakat Yogyakarta, yang lebih mengenal blok daripada jalan. Konon, orang Yogya lebih mengenal kategori blok atau kampung (Pingit, Badran, atau Kumetiran) daripada jalan (Jl. A. Yani, Jl. P. Mangkubumi di pusat kota) meskipun lebih terkenal.

Warga Nogotirto V memilih jalan sebagai kategori pembagian wilayah RT pada awalnya didasari pertimbangan praktis administratif. Pilihan mereka yang “awam” ternyata merupakan pilihan yang tepat, sebab dengan demikian ternyata jalan justru menjadi wadah penting bagi berlangsungnya aktivitas sosial – budaya warga dan sekaligus mengembangkan perasaan se-RT (sense of belonging). Jalan dan halaman depan rumah – rumah (front yard) berubah menjadi ruang bersama (communal space) bagi deretan rumah – rumah yang berhadapan, sehingga kontak sosial antar warga dapat berlangsung intensif. Anak – anak merasa bebas meletakkan sepeda atau mainannya di halaman atau tepi jalan di depan rumah. Para ibu juga merasa leluasa berbincang dengan ibu lain dari teras ke teras. Para bapak lebih senang berbincang – bincang di gardu ronda yang terletak di salah satu ujung jalan. Rasa memiliki ruang jalan dan identitas RT telah menumbuhkan “fanatisme” RT yang positif, sehingga kohesi sosial dapat berkembang dengan baik.

Para warga Nogotirto V telah menciptakan desain baru dengan menciptakan peta kewilayahan RT, yakni tatanan cluster fisik yang berimpit dengan cluster sosial. Mereka memberi makna unik pada tatanan fisik yang telah ada, diarahkan untuk mendukung tata kehidupan yang dicita – citakan. Desain fisik developer diberi makna baru melalui desain wilayah RT sebagai setting sosio – fisik. Elemen jalan, deretan rumah berhadapan, ruang bersama yang kondusif, dan gardu ronda menjadi titik penting tatanan sosio – fisik sebuah wilayah RT, sebagai satuan terkecil dari tata kehidupan bersama yang lebih luas.

Dari kasus Nogotirto V dapat ditarik 5 (lima) butir gagasan penting. Pertama, kognisi tentang bentuk kehidupan ideal warga perumahan merupakan salah satu unsur penting bagi penciptaan tata lingkungan perumahan. Kedua, satuan sosial terkecil (RT) berperan penting bagi pembentukan kualitas kehidupan di komplek perumahan massal, sehingga berpotensi menjadi satuan dasar (terkecil) bagi tatanan fisik komplek perumahan yang lebih luas. Ketiga, kategori jalan lebih tepat digunakan sebagai cara pembagian satuan sosial terkecil (tingkat RT) karena berpotensi menyatukan elemen fisik dan sosial menjadi setting sosio – fisik. Keempat, kelengkapan dan tatanan lingkungan pada satuan terkecil (RT) terdiri atas : ruang bersama (communal space), rumah – rumah yang diletakkan berhadapan di sepanjang jalan lingkungan, dan fasilitas bersama (misalnya : gardu ronda) yang dapat digunakan oleh semua warga. Kelima, tata lingkungan versi developer pada dasarnya adalah desain awal, yang terbuka terhadap partisipasi warga untuk menciptakan “desain baru” yang lebih tepat.

Penutup

Dampak desain komplek perumahan massal terhadap tata dan kualitas kehidupan manusia yang menghuni di dalamnya semakin penting dipertimbangkan. Kualitas kehidupan sosial dapat dibangun melalui satuan sosial terkecil setingkat RT, sehingga desain perumahan bagi kelompok masyarakat yang masih memiliki kognisi tentang kehidupan masa lalu yang berciri komunal perlu menggunakan satuan sosial terkecil setingkat RT sebagai satuan dasar bagi tatanan lingkungan fisik yang akan dirancang.

Masalahnya, kecenderungan di kota besar justru sebaliknya. Konon di Jakarta figur “Pak RT” sudah mulai ditinggalkan, bahkan pada perumahan tertentu di Jakarta struktur RT sengaja ditiadakan. Mereka menganut pertimbangan pragmatis, karena lebih senang mengurus administrasi kependudukan langsung ke kantor kalurahan.

CATATAN: artikel ini pernah di muat di harian umum BERNAS sekitar April 1998. Tulisan ini jugalah yang menguatkan para pengurus RW untuk memilih semboyan TETANGGAKU ADALAH SAUDARAKU menjadi semangat warga paguyuban perumahan Nogotirto Limo. Artikel ini dibawa oleh Pak Danangjaya dan menjadi bahan dalam rapat RW yang akhirnya memutuskan rumusan judul artikel tersebut diatas menjadi semangat perumahan Nogotirto Limo. Kalimat pertama artikel ini memuat imajinasi penulis, yang membayangkan bahwa semangat warga perumahan seolah-olah sudah seperti itu, padahal artikel ini muncul lebih dahulu daripada semboyan resmi tersebut di tetapkan dalam rapat RW. Semangat tersebut sudah ada di Nogotirto Limo tetapi masih sangat terbatas di kalangan beberapa warga yang senang NYAKRUK, maka sebenarnya embrio semangat itulah yang menjadi inspirasi penulis di dalam tulisan ini.

Selain itu, di dalam tulisan ini juga ada semacam “resep” yang intinya: jika di suatu perumahan terjadi suasana yang kurang guyub-rukun, mungkin hal itu disebabkan oleh tatanan “isi / content” (jaringan kehidupan manusia) tidak cocok-fit dengan tatanan “wadah / container” yaitu desain fisik perumahannya. Pada kasus Nogotirto Limo, fungsi jalan di depan rumah menjadi ruang komunal dan konsep ini terbukti tepat, mampu menjadi setting terbangunnya relasi-relasi sosial mulai skala bertetangga. Faktor yang sangat penting adalah manusia, sebab keinginan hidup bersaudara memang ada di dalam hati dan lingkungan fisik semakin mendorong lahir dan menguatnya kehendak untuk membangun kebersamaan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: