Posted by: djarotpurbadi | February 9, 2009

Usulan Pendirian Bank Koran Bekas di Nogotirto Elok Limo

Beberapa waktu yang lalu di harian Kompas dimuat tentang sebuah kreativitas di kalangan warga korban gempa di Bantul. Mereka mengembangkan aktivitas BANK SAMPAH untuk menghimpun dana sekaligus berpartisipasi melestarikan lingkungan dan menjaga kebersihannya. Ide itu bagus dan menarik, sebab dampaknya sangat positif.

Saya ingin mengusulkan ada BANK KORAN BEKAS di perumahan kita, yang mungkin pernah dibuat di tempat lain. Idenya sama, mengumpulkan koran bekas di Balai RW (kantor bank) dari warga perumahan, kemudian secara terjadwal petugas bank mengundang UD Sregep untuk membelinya. Soal prosentase atau hitung-hitungan detil uangnya bisa kita diskusikan, termasuk petugasnya mendapat uang lelah dari mana kita pikirkan. Siapa tahu kita bisa memberi pekerjaan kepada warga kita atau pekerjaan tambahan untuk petugas keamanan kita.

Daripada kita sendiri-sendiri menjual koran ke UD Sregep, kenapa nggak kita koordinir, supaya ada manfaat yang lebih banyak. Ada pekerjaan tambahan, ada pemasukan untuk RW dan sebagainya. Hal yang paling penting, kita memiliki sarana untuk berkomunikasi, minimal para nasabah bank koran itu. Kita juga bisa mengajak anak-anak atau pemuda untuk mengelola sebuah kegiatan yang melatih manajemen dan kedisiplinan serta tanggung jawab.

Untuk mengkristalkan ide bank koran, kita bisa belajar dari bank sampah yang pernah ada di Bantul. Bagaimana aturannya, jadwal kerjanya, pembukuannya, termasuk berapa tatanan prosentasenya. Dengan menjadi nasabah bank koran yang orientasinya non-profit, kita memang tidak bisa berharap menjadi kaya dari bank ini. Saya kira Pak Suroto warga RT 05 yang bekerja di Bank Mandiri atau Pak Nanan (keponakannya bupati) yang juga bekerja di Bank bisa membantu merumuskan konsep bank yang pas untuk warga Nogotirto Limo.

Bagaimana ? Mohon tanggapan warga semua.

Salam,

Djarot Purbadi


Responses

  1. SETUJU SEKALI…. PAK JAROT. BAGAIMANA PAK TOTOK & PAK NANAN KOMENTARNYA

  2. Pak Wibisono, sebenarnya substansinya adalah domain ekonomi. Lha mengapa kok usul ? Maksud saya, kita membuat “mainan” dengan simulasi nyata tentang sebuah bank, sehingga adik-adik atau siapapun yang ingin belajar memahami sebuah bank bisa belajar langsung di bank koran ini. Jadi domainnya masih dalam kendali sie pendidikan RW. Belajar sambil bermain…Tahap pertama memang perlu ada diskusi bagaimana konsep bank tersebut secara konkrit, nah ini domain para bankers yang ada di Nogolimo. Setelah konsepnya matang, disetujui sebagian besar warga, maka bank bisa segera melakukan persiapan…yang pernik-perniknya bisa banyak…bisa juga sederhana !


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: