Posted by: djarotpurbadi | January 14, 2009

Asta Dasa Parateming Prabu

Wolulas Silaning Keprabon atau Kepemimpinan (Pusakaning Patih Gajah Mada)

Wijaya – budi wening, sabar lan wicaksana. Artinya pemimpin harus mempunyai jiwa tenang, sabar dan bijaksana serta tidak lekas panik dalam menghadapi berbagai macam persoalan. Hanya dengan jiwa yang tenang masalah akan dapat dipecahkan.

Mantriwira – wani njunjung kaadilan kanthi prawira. Artinya pemimpin harus berani membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan tanpa terpengaruh tekanan dari pihak manapun.

Natangguan – dadya telenging jalma, njunjung asma lan pepadha. Artinya pemimpin harus mendapat kepercayaan dari masyarakat dan berusaha menjaga kepercayaan yang diberikan tersebut sebagai tanggung jawab dan kehormatan.

Satya Bhati Prabhu – setya ing nusa lan bangsa, njunjung drajating negara. Artinya Pemimpin harus memiliki loyalitas kepada kepentingan yang lebih tinggi dan bertindak dengan penuh kesetiaan demi nusa dan bangsa.

Wagmiwak – lantip ing wicara, tinarbuka tatanira, njunjung. Artinya tatakrama, anggregeget semangat uriping liyan. Pemimpin harus mempunyai kemampuan mengutarakan pendapatnya, pandai berbicara dengan tutur kata yang tertib dan sopan serta mampu menggugah semangat masyarakatnya.

Wicaksaneng Naya – jembar pasrawunganira, lebet lan kenceng gegayuhane. Artinya pemimpin harus pandai berdiplomasi dan pandai mengatur strategi dan siasat.

Sarjawa Upasama – tan gedhe rumangsanira, tan ajrih kalung ringkih, lembah manah njunjung urmating pepadha. Artinya seorang pemimpin harus rendah hati, tidak boleh sombong, congkak, mentang-mentang jadi pemimpin dan tidak sok berkuasa.

Dhirotsaha – cipta, rasa, lan karsa inunjukna mring pepadha dadya darmaning negara, lelabet kepentinganing sadhengah titah. Artinya pemimpin harus rajin dan tekun bekerja, memusatkan rasa, cipta, karsa dan karyanya untuk mengabdi kepada kepentingan umum.

Tan Satrisna – kenceng ngasta gegayuhan sesami, tan keli melu ombyaking sanak-kadang mitra, tan pilih kasih. Artinya seorang pemimpin tidak boleh pilih kasih terhadap salah satu golongan, tetapi harus mampu mengatasi segala paham golongan, sehingga dengan demikian akan mampu mempersatukan seluruh potensi masyarakatnya untuk mensukseskan cita-cita bersama.

Masihi Samasta Bhuwana – anjagi alaming rinipta, tan ngrusak sakabehing ana jer uripe manungsa jinunjung kanthi pantes. Artinya seorang pemimpin mencintai alam semesta dengan melestarikan lingkungan hidup sebagai karunia Tuhan dan mengelola sumber daya alam dengan sebaik-baiknya demi kesejahteraan rakyat.

Sih Samasta Bhuwana – tinresnana sakabehing jalma ing alam donya, lan
tresnanana sakabeh warganing negara. Artinya seorang pemimpin dicintai oleh segenap lapisan masyarakat dan sebaliknya pemimpin mencintai rakyatnya.

Negara Gineng Pratijna – wani pati-dhiri jer kepentingan negara dadya aji. Artinya seorang pemimpin senantiasa mengutamakan kepentingan negara dari pada kepentingan pribadi ataupun golongan, maupun keluarganya.

Dibyacitta – tinarbuka manahira, nampa sakabeh wicaraning warga, wani lara nampa sisip sembiring basa. Artinya seorang pemimpin harus lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain atau bawahannya (akomodatif dan aspiratif).

Sumantri – jujur, wani ngudhar sabda, lan kawibawan kinandhut saking lebeting jiwa. Artinya seorang pemimpin harus tegas, jujur, bersih dan berwibawa.

Nayaken Musuh – tan ngendhani mengsah, malah wani nelukaken mengsah, ugi mengsah ing batos piyambak. Artinya dapat menguasai musuh-musuh, baik yang dating dari dalam maupun dari luar, termasuk juga yang ada di dalam dirinya sendiri.

Ambek Para Marta – kawigatenipun tumuju dhateng para papa, ingkang tanpa bala. Artinya pemimpin harus pandai menentukan prioritas atau mengutamakan hal-hal yang lebih penting bagi kesejahteraan dan kepentingan umum.

Waspada Purwa Artha – tansah waspada ing sadaya panggodha, langkung-langkung godhaning arta. Artinya pemimpin selalu waspada dan mau melakukan mawas diri (Instropeksi) untuk melakukan perbaikan.

Prasaja (aparigraha) – ngugemi urip prasaja, ninggal gumebyaring tanda. Artinya seorang pemimpin supaya berpola hidup sederhana (Aparigraha), tidak berfoya-foya atau serba gemerlap.

Sumber: Albertus Usada.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: