Posted by: djarotpurbadi | December 30, 2008

Apakah Anda Kenal Agus Mie ?

Setahu saya di perumahan Nogolimo ada tiga orang yang bernama Agus. Mereka adalah Agus Sawah (mantan Ketua RW), Agus Widiarso atau Agus UPN, dan Agus yang selalu berkeliling menjajakan mie Jowo. Oleh karenanya, untuk membedakan, Agus yang ketiga saya sebut Agus Mie, supaya tidak keliru dan jelas.

Pada malam hari tanggal 29 Desember 2008 saya mengundang pak Agus Mie ke rumah karena anak-anak ingin makan mie Jowo khas Agus Mie. Seperti warga perumahan Nogolimo yang lain, keluarga kami adalah salah satu langganan pak Agus Mie. Sambil memasak pesanan anak-anak, saya sempat menggali informasi untuk mengenal tentang siapa beliau, sang tokoh sejarah lokal kita dalam tulisan saya kali ini.

Pak Agus Prasetyo yang tekun menjajakan bakmi Jowo di perumahan Nogotirto Limo (29 Desember 2008)

Pak Agus Prasetyo yang tekun menjajakan bakmi Jowo di perumahan Nogotirto Limo . Ia bisa dihubungi ke nomor HP 087839176040 (29 Desember 2008)

Pak Agus Mie yang memiliki nama asli Agus Prasetyo ini mengaku berasal dari Wonosari. Ia telah berkeluarga dan memiliki satu anak perempuan yang kini berusia sekitar enam tahun. Keluarga pak Agus tinggal di dusun Nusupan, mengontrak di rumah salah satu warga Nusupan. Konon ia hanya tinggal berdua saja, bersama istrinya, sebab anak satu-satunya itu ternyata tinggal bersama neneknya (ibu pak Agus) di Wonosari. Wah, manten anyar terus ya pak setiap hari, komentar saya pada hari yang lain. Pak Agus hanya mesam-mesem.

Ketika diingat-ingat dan dihitung-hitung, ternyata pak Agus telah selama lima tahun berjualan mie Jowo di perumahan Nogotirto Limo dan sekitarnya. Ia mengaku pernah tinggal di Niten selama dua tahun sambil berjualan mie di perumahan Nogotirto 5-4-3-2. Ia merasa krasan melayani warga Nogolimo, kemudian pindah kontrak di Nusupan agar dekat dengan langganannya. Tidak terasa ternyata ia tinggal di Nusupan sudah selama 3 tahun.

Tampaknya pak Agus sudah menetapkan pilihan bahwa ia ingin terus melayani kebutuhan makan warga perumahan Nogotirto Limo dan sekitarnya. Ia tidak pernah menjual mie di luar perumahan Nogotirto 5-4-3-2. Tentu ini sebuah pilihan yang sangat diperhitungkan dan mengandung resiko bagi dirinya. Kita berterima kasih atas layanan makan mie yang telah diberikannya selama ini dengan penuh keramahan.

Menu yang paling saya sukai dari Agus mie adalah bihun goreng. Rasanya sangat enak dan tentu ini hanya berlaku untuk saya pribadi. Kenapa masakannya enak ? Pada hari lain pak Agus ceritera bahwa ia berjualan mie Jowo seperti para warga Wonosari (Gunung Kidul) yang lain namun dengan modifikasi resep. Ia membeberkan resepnya itu kepada saya, dan katanya itu adalah resep rahasia yang dia temukan sepanjang kariernya sebagai penjual mie. Pantes pak, kami selalu kangen mie masakanmu yang selalu enuaaak banget !

Beberapa waktu yang lalu dan malam kemarin pak Agus berceritera tentang masa lalunya yang penuh dengan perjuangan. Katanya, ia memiliki banyak guru dalam menguasai ketrampilan memasak mie Jowo khas Wonosari. Pertama kali ia belajar memasak mie dengan cara magang pada kakaknya yang bernama Edy Sutrisno, seorang penjual mie Jowo di perumahan Minomartani. Katanya, sekitar setahun ia magang di kakaknya itu.

Lepas dari kakaknya, ia berpindah-pindah guru, salah satunya adalah pak Gendut (Mie Gendut) yang ada di perempatan Demakijo. Ia magang pada pak Gendut juga sekitar setahun. Konon pak Gendut ini adalah saudaranya Kadir, penjual mie yang pernah mangkal di ringroad dekat perumahan Nogotirto Empat. Kadir ini kemudian pindah dan sekarang mangkal di utara pasar Telagareja. Menurut pak Agus, dirinya sedesa dengan Kadir, pak Gendut dan kakak pak Gendut yang ada di Sonosewu. Kakaknya pak Gendut juga berjualan mie Jowo di Sonosewu itu. Tampaknya ada proses alih ketrampilan memasak mie di kalangan warga Wonosari di perantauan dengan cara magang. Ini menarik, sebab merupakan sebuah modal sosial yang penting untuk melestarikan mie Jowo khas Wonosari.

Ketika ikut Kadir inilah pak Agus Mie mulai ancang-ancang untuk mandiri. Selama sekitar enam bulan ia menjajakan mie Kadir secara keliling di perumahan Nogotirto untuk mencari langganan dan modal agar bisa berdiri sendiri. Pada waktu itu ia menjajakan mie Kadir dengan pola persenan; digaji dari persenan mie yang laku sesuai kesepakatan. Ia mengatakan kepada Kadir, bahwa cara itu adalah untuk persiapan dirinya mengumpulkan modal dan mencari langganan. Tampaknya Kadir setuju dan jadilah pak Agus Mie akhirnya bisa mandiri. Alasan utama pisah dari Kadir adalah sebab ia sudah menikah dan perlu berpenghasilan yang lebih baik.

Hal yang menarik juga diceriterakannya. Ternyata pak Agus Mie sangat mengenal petugas keamanan kita Mas Harbiyanto alias Bagong (nama populer di Niten). Pertemuan reuni keduanya terjadi secara tidak sengaja. Pada suatu malam pak Agus mendorong gerobak mie di perumahan Nogolimo merasa dikuntit orang dari jarak cukup jauh. Jika ia berjalan cepat orang itu juga cepat, dan jika berjalan lambat ia juga lambat. Pada momen tertentu keduanya bertemu, dan terjadilah perjumpaan dua teman lama. Ooooo jebul kamu ta Gong, sudah aku siapkan clurit jeee, kata Agus Mie pada mas Harbiyanto yang tugas malam itu dan menguntitnya. Keduanya lantas terlibat dalam pembicaraan akrab antar dua teman lama. Maklum pak Agus memang pernah tinggal di Niten selama dua tahun, jadi ia kenal mas Bagong alias Harbiyanto.

Pak Agus Mie dapat dihubungi lewat HP dengan nomor: 087839176040. Maklum sekarang kan abad informasi digital, jadi penjual mie skala pak Agus juga tidak mau ketinggalan. Ia juga menggunakan sarana sms sebagai media komunikasi dengan langganannya. Nggak hanya Barack Obama yang memanfaatkan teknologi informasi untuk memenangkan persaingan, Agus Mie juga nggak mau ketinggalan. Bukan untuk menang tetapi untuk memuaskan langganannya. Justru langganannya yang harus bersaing mengundang Agus Mie lewat sms, siapa duluan dia yang memenangkan persaingan memanggil Agus Mie.

Orang seperti pak Agus Mie ini melihat bahwa warga perumahan Nogolimo merupakan langganan setianya. Ia datang dari Wonosari untuk mengadu nasib di Nogolimo. Bagaimanapun juga Mie Agus ini telah menjadi bagian dari kehidupan perumahan Nogolimo. Ia memiliki ikatan batin dengan warga perumahan Nogolimo, bahkan menggantungkan nasib diri dan keluarganya kepada warga Nogolimo. Pada sisi lain warga Nogolimo juga sangat membutuhkan mie Agus yang enak dan sudah sesuai dengan selera warga. Ia tidak perlu migrasi ke Jakarta untuk menyambung hidup keluarganya, sebab cukup ke Nogotirto ia sudah merasa terjamin hidupnya, meskipun ya sebatas ala perantauan lokal (bukan antar provinsi).

Tampaknya ada simbiosis mutualisme antara pak Agus Mie dengan warga perumahan Nogolimo. Semoga ikatan batin ini dapat terus dilestarikan dan membawa berkah melimpah bagi kedua pihak. Pak Agus pastilah mengenal karakter sebagian besar warga Nogolimo yang menjadi langganannya; ada ikatan batin yang dirasakan meski wujudnya dimulai dari sekedar transaksi jual-beli mie Jowo khas Agus Mie.

Semoga….kemesraan ini janganlah cepat berlalu…..!

Djarot Purbadi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: