Posted by: djarotpurbadi | October 14, 2008

Mengembangkan Jiwa Kewirausahaan

Kedaulatan Rakyat. 11/10/2008 08:54:36

SIAPA yang tak kenal Oprah Wimprey? Dia bukan hanya host talk show berjudul The Oprah Winfrey Show, tetapi juga salah satu orang terkaya di Amerika Serikat. Semua kekayaannya itu diperolehnya dari acara talk show dan kegiatan lain yang berkaitan dengan hiburan, seperti menerbitkan The Oprah Magazine, Perusahaan Harpo Studio, dan Perusahaan Harpo Films. Tahun 2005, kekayaan Oprah sudah berharga lebih dari 1 miliar dollar AS. Tidak heran bila buku Entrepreneurship, yang diterbitkan oleh McGraw-hill, memasukkan kisah Oprah sebagai profil pembuka buku itu.

Yang menjadi awal segala keberhasilan Oprah adalah The Oprah Winfrey Show. Talk show ini menjadi dasar bagi Oprah untuk mengembangkan jiwa kewirausahaannya. Itulah sebabnya oprah tidak mau melupakan talk show tersebut. Dia tetap menjadi host di situ. Sekalipun sudah menjadi orang kaya, dia tidak lupa diri. Dia tetap mengunjungi penonton setianya lewat Oprah Winfrey Show.

Sebuah pertanyaan yang pantas diajukan bertolak dari keberhasilan Oprah adalah apakah setiap orang bisa mengembangkan jiwa kewirausahaannya sehingga mampu menjadi pengusaha andal seperti Oprah? Ternyata semua orang bisa menjadi pengusaha andal sepanjang mereka memenuhi tiga persyaratan utama, yaitu (i) berani mengambil risiko; (ii) memulai sesuatu yang unik; dan (iii) memiliki teladan yang jadi panutan.

Berani Mengambil Risiko

Berani mengambil risiko mengandung pengertian bersedia menanggung akibat yang tidak menyenangkan atau merugikan dari sebuah tindakan. Sikap seperti ini tidak dimiliki banyak orang. Tetapi, ia menjadi salah satu kebiasaan para pengusaha besar. Ia bahkan bisa mencirikan pengusaha yang memiliki harga diri.

Kenyataan memperlihatkan tidak mudah bagi seorang individu untuk memiliki sikap bersedia menanggung akibat yang mendatangkan penderitaan dari tindakannya. Semakin tidak menyenangkan hasil tindakannya, semakin besar pula keinginannya untuk tidak menanggung akibatnya. Bahkan tidak jarang seorang individu mencari kambing hitam dari tindakannya sendiri yang ternyata tidak menyenangkannya. Individu seperti ini tidak akan pernah bisa mengembangkan jiwa kewirausahaannya.

Memang kita bisa bertanya, apa hubungannya antara pengembangan jiwa kewirausahaan dengan kesediaan menanggung akibat tindakan yang mendatangkan penderitaan? Pengembangan jiwa kewirausahaan membutuhkan pribadi yang kuat. Ia memerlukan pribadi yang benar-benar bergairah memikul segala konsekuensi tindakannya. Ia membutuhkan pribadi yang tidak harus menunggu dulu sebelum tampil ke depan mempertanggungjawabkan tindakannya.

Dengan karakteristik seperti itu, seorang individu tidak takut mengembangkan usahanya. Dia rela berkorban demi apa yang diusahakannya. Dia tidak khawatir usahanya akan gagal. Lebih dari itu, relasinya akan mempercayainya. Kepercayaan relasi ini sangat penting dalam dunia usaha.

Memulai Sesuatu yang Unik

Yang dimaksud dengan sesuatu di sini adalah benda yang diproduksi atau jasa yang diusahakan. Sedangkan unik bermakna khas, beda dengan yang lain dan sama sekali baru. Dengan begitu, sesuatu yang unik adalah barang atau jasa yang khas, beda dengan yang lain dan sama sekali baru.

Mengapa barang atau jasa itu harus unik? Karena manusia pada dasarnya cepat bosan. Kebosanan ini mengantarkan mereka untuk menyukai barang dan jasa yang unik. Ada dorongan dalam diri mereka untuk mencoba barang atau memakai jasa seperti ini.

Pengembangan jiwa kewirausahaan juga bertolak dari melayani keinginan manusia untuk mencoba barang atau memakai jasa yang khas, beda dengan yang lain dan sama sekali baru. Ia berangkat dari usaha untuk menampilkan barang dan jasa yang bisa menarik perhatian orang banyak. Tidak heran bila prinsip ini lebih memikirkan kepuasan manusia menggunakan barang dan jasa.

Prinsip seperti ini tidak dimiliki oleh banyak orang, sekalipun mereka sudah jadi pengusaha. Lihatlah, melihat keberhasilan seorang penjual voucher pulsa hp, banyak orang menjual voucher pulsa hp. Mereka hanya meniru usaha yang sudah ada. Akibatnya bisa diduga, mereka tidak memperoleh keuntungan yang maksimal. Usaha mereka tidak bisa besar mencapai omzet ratusan juta rupiah.

Memang tidak mudah memikirkan barang dan jasa yang khas, beda dengan yang lain dan sama sekali baru. Semuanya seolah-olah sudah ada. Tetapi, kenyataan menunjukkan bahwa ada saja barang dan jasa yang termasuk kategori itu. Di propinsi DIY, sedikitnya terdapat dua pengusaha yang mengusahakan makanan yang khas, beda dengan yang lain dan sama sekali baru. Pertama, pengusaha tela-tela yang omzetnya bisa mencapai Rp 2 miliar per bulan. Kedua, pengusaha warung makan SS, yang sudah punya beberapa cabang dalam waktu sekejap.

Memiliki Teladan yang Jadi Panutan

Sesungguhnya setiap individu punya teladan yang bisa jadi panutan. Teladan itulah yang membantunya mencapai apa yang dia cita-citakan. Tetapi, dalam pengembangan jiwa kewirausahaan, teladan tidak hanya menjadi panutan, melainkan juga menjadi pembimbing dalam langkah-langkah pengembangan usaha.

Julius Tahija misalnya, dalam mengembangkan PT Caltex dan PT Freeport, menjadikan saudagar keturunan Cina di daerah kelahirannya dulu sebagai panutan. Dia meniru prinsip yang diamalkan oleh para saudagar keturunan Cina tersebut, meliputi : (i) membangun hubungan pribadi dengan relasi; (ii) tidak menipu relasi; (iii) tidak takut lelah dan kurang tidur; dan (iv) menghadapi calon relasi dengan fakta dan logika. Dengan pengamalan semua prinsip tersebut, Julius Tahija mampu mengembangkan jiwa kewirausahaannya dan berhasil mengembangkan PT Caltex dan PT Freeport sebagai perusahaan besar.

Contoh yang lain adalah, pemilik rumah makan Duta Minang. Ternyata dia juga punya panutan. Dia meniru bagaimana sebuah rumah makan asal Bukittinggi yang berhasil meraih jumlah pelanggan yang banyak. Salah satu caranya adalah memanjakan selera pelanggan. Berkat pengamalan prinsip ini, rumah makan Duta Minang kini menjadi idola rumah makan Padang di Yogya.

Dengan begitu, hakikat pengembangan jiwa kewirausahaan adalah kesiapan mental untuk berani mengambil risiko, memulai sesuatu yang unik dan memiliki teladan yang jadi panutan. Tetapi, kesiapan mental ini tidak datang begitu saja. Ia harus dibentuk, baik melalui pelatihan maupun pendidikan. Maka marilah kita perbanyak pelatihan dan pendidikan yang bisa menyiapkan mental itu. Setelah itu barulah kita bisa berharap akan muncul pengusaha-pengusaha besar di Indonesia.

*) Drs Ana Nadhya Abrar MES, Pengajar Fisipol UGM Yogyakarta.

Sumber: Kedaulatan Rakyat, 11/10/2008


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: